PostHeaderIcon Kegiatan Manasik Haji

Pengumuman

Diberitahukan kepada orang tua siswa/i SD Madani Cilegon bahwa pada

Hari/Tanggal : Selasa, 8 November 2011

Acara                : Manasik Haji dan Pemotongan Hewan Qurban

Tempat            : Sekolah dan lapangan perumahan Kedawung

Waktu              : 08.00 – 11.00 WIB

Pakaian           : Putra, pakai baju ihram (warna putih)

Putri, pakai baju muslim (warna putih)

- Siswa/i dipulangkan jam 11.00 WIB

- Hewan qurban yang sudah diterima oleh SD Madani Cilegon sebanyak 3 ekor kambing dan akan disalurkan ke warga sekitar yang berhak  menerima. Semoga yang berqurban mendapatkan pahala dan dilipatgandakan rezekinya oleh Allah SWT. Amin!

Terima kasih atas perhatiannya….

Kabid Humas SD Madani Cilegon

PostHeaderIcon Siapkah anak masuk SD ?

Bulan Januari dan Pebruari adalah masa-masa sibuk orang tua mencarikan sekolah yang tepat untuk ananda. Hati berdebar ketika ananda mengikuti “ujian” masuk SD. Bagaimana tidak berdebar, materi ujian memang banyak yang cukup bikin deg-degan orang tua: membaca dan menulis kalimat, Matematika (operasi bilangan seperti penjumlahan dan pengurangan). Kalau ujiannya di sekolah Islam, biasanya ditambah dengan hafalan beberapa surat pendek dan doa-doa harian. Kalau mau masuk sekolah dwibahasa, ditambah tes bahasa Inggris.

Banyak juga orang tua yang melihat ananda sudah pandai membaca dan menulis meski usianya baru 5 tahun dan masih duduk di TK A, lalu berpikir “Hmmm.. kenapa tidak langsung masuk SD saja??”

Apa sebenarnya indikator kesiapan ananda belajar di SD? Usia kah? Kepandaian calistung (membaca – menulis – berhitung) kah?

Memang ada beberapa indikator penting untuk menilai kesiapan ananda belajar di SD. Hal-hal berikut merupakan prasyarat yang harus dimiliki agar ananda berhasil dalam belajar:

1.  Perkembangan fisik, perkembangan motorik, dan kemandirian:  Apakah perkembangan motorik ananda sesuai dengan usianya? Bagaimana koordinasi motoriknya ketika bermain di playground? Cukup mandirikah ananda? Mampukah dia menolong dirinya sendiri dalam hal-hal sederhana seperti membuka dan mengenakan sepatu, mengeluarkan bekal, makan sendiri, memasukkan kembali kotak bekal ke dalam tas? Bugarkah fisiknya, sanggupkah dia menjalani waktu belajar yang lebih panjang?

2. Kematangan sosial dan emosional : Bagaimana sosialisasi ananda? Apakah dia mulai bisa bermain secara kooperatif dengan kawannya? Bagaimana sosialisasinya dengan orang dewasa? Mampukah dia mengungkapkan kebutuhan dirinya serta mengontrol impulsnya?

3. Sikap dan minat belajar :  Apakah ananda menunjukkan keingintahuan dalam belajar? Bagaimana dengan minatnya, sudahkah ia mulai tertarik pada beragam hal atau masih terpaku pada satu dua hal yang diminatinya saja? Sejauh mana ia bisa berkonsentrasi? Bisakah dia memahami dan mengikuti instruksi sederhana?

4. Komunikasi dan penggunaan bahasa :  Apakah ananda mampu mengekspresikan dirinya? Dapatkah ia menuliskan namanya dan mengenali semua huruf dalam alfabet? Apakah dia tertarik pada buku dan “terlibat” saat “membaca”?

5. Kognisi dan pengetahuan umum :  Bisakah ia mengenali warna dan nama-nama bentuk dasar? Dapatkah ia menghitung sampai 10? Apakah dia mampu bermain simbolis, misalnya bermain “pura-pura”, menggunakan imajinasi dan membuat “cerita”?

Kemampuan membaca, menulis dan berhitung bukan indikator yang tepat. Malahan sebenarnya belajar membaca dan menulis adalah porsi belajar di kelas 1 SD, bukan di TK. Selama TK, ananda memang perlu belajar dan mematangkan keterampilan pra-membaca-menulis seperti mematangkan keterampilan motorik halus, belajar cara memegang pensil yang benar (pencil grip), mengkoordinasikan gerakan mata dan tangan, dll. Semua itu perlu dimatangkan agar ananda dapat belajar membaca dan menulis dengan mudah.

Namun demikian, setiap individu berbeda. Bila ananda sudah siap, tentu tidak ada salahnya ia belajar membaca dan menulis di TK. Kenapa tidak? Yang penting, jangan dipaksakan. Bila itu terjadi, malah dapat memadamkan keinginan dan kesukaan dalam belajar. Sayang kan kalau sampai begitu!

Pengalaman menunjukkan, siswa kami yang waktu masuk kelas 1 sama sekali belum bisa membaca dapat belajar dengan cepat. “Awal masuk sekolah anak kami belum bisa baca sama sekali, dan takut melihat buku. Dalam 3 bulan dia sudah bisa membaca dan bahkan senang membaca . Ada buku atau majalah, apa saja, semua dia baca,” demikian ungkap Ibu Lola Purwanto mengomentari kemajuan putri pertamanya.

Jadi, silakan Ayah dan Bunda membangun kesiapan ananda dalam lima area di atas tadi. Kemandirian, kematangan sosial – emosional, kemampuan memfokuskan perhatian , serta adanya minat dan keingintahuan dalam belajar akan menjadikan belajar di SD sebuah tantangan yang menarik tetapi realistis bagi ananda.

PostHeaderIcon Cara Jitu Menumbuhkan Semangat Belajar Pada Anak

Nah, ini adalah tema yang sering ditunggu-tunggu oleh orangtua dan juga sering banyak dikeluhkan orangtua. “Kenapa anak saya ngga senang belajar, maen aja seharian”, keluh seorang Ibu yang hadir diseminar saya. Para pembaca, percayakah Anda bahwa kehidupan sejati kita manusia adalah seorang pembelajar? Tapi kita sering memberikan perlakuan yang tidak menyenangkan saat anak belajar (secara tidak sadar) bahkan dulu kita pun mungkin diberikan stimulasi yang salah sehingga belajar itu tidak menyenangkan.

Misalnya, saat anak kita bayi dan berumur 1 tahun. Dia ingin memasukan semua barang yang dapat ia pegang ke dalam mulutnya, benar? Nah yang kebanyakan orang lakukan saat itu adalah berkata “eh… itu kotor, ngga boleh” sambil menarik barang tersebut. Read the rest of this entry »

PostHeaderIcon CARA TERBAIK MEMAHAMI ANAK

Banyak orangtua dan guru yang mengikuti seminar saya berkomentar “Oke, teknik yang Anda berikan untuk mengatasi problematika anak sangat bagus. Tapi, saya tidak yakin bisa menerapkan apa yang telah Anda ajarkan” lalu tanya saya “Apa sebabnya?”“Pertama saya tidak disukai anak, berikutnya bagaimana mengkomunikasikan pada mereka ?”. Jelas ini adalah masalah, tapi tenang ada cara bagaimana memahami perilaku anak. Tapi sabar dahulu sebab ada bagian yang harus Anda pahami dahulu.

Banyak dari orangtua dan guru bertanya dalam pikiran mereka sendiri :

  • Mengapa anak saya tidak peduli dengan masa depannya?
  • Mengapa mereka melakukan hal-hal yang tidak masuk akal (guru dan orangtua)
  • Mengapa mereka tidak mau mendengarkan walupun sudah diingatkan berkali-kali?
  • Mengapa anak saya membiarkan dirinya dipengaruhi oleh hal-hal negatif dari teman-temannya yang tidak berguna?

Nah, pertanyaan utama : bagaimana memahami perilaku dan pemikiran mereka? Read the rest of this entry »

PostHeaderIcon Tauladan Guru

Perilaku guru, langsung atau tidak langsung, berpengaruh terhadap motivasi belajar siswa, baik yang positif maupun negatif. Jika kepribadian yang ditampilkan guru sesuai dengan segala tutur sapa, sikap, dan perilaku, siswa akan termotivasi untuk belajar dengan baik. Guru sejati tidak hanya mentrasfer ilmu, tetapi juga berbudi pekerti dan dapat menjadi contoh bagi siswa.

Pengaruh seorang guru terhadap anak didik hampir sebesar pengaruh orang tua terhadap anak. Bahkan, kita sering menemukan seorang anak tidak mau mengerjakan saat diperintah orang tua. Tetapi, ketika diperintah guru, dia mau mengerjakan. Meski kasuistik, hal tersebut mencerminkan bahwa pengaruh guru terhadap siswa sangat besar, termasuk dalam pembentukan karakter.

Sebagai kurikulum berjalan, guru seharusnya setiap saat memperbarui dan meningkatkan kemampuan keguruannya. Teladan nyata yang ditunjukkan guru akan lebih mudah melekat dalam perilaku siswa daripada pembelajaran secara verbal.

Aneka cibiran dan komentar sinis masyarakat seakan mengubah citra profesi guru yang dulu dikenal “sakral” menjadi marginal. Publik selalu menyoroti guru sampai sedetail-detailnya. Rusak sedikit citra itu, bisa terjadi isu besar. Meski hanya oknum yang melakukan, semua kena getahnya. Harapan yang membubung membuat masyarakat tidak bisa menerima guru berbuat salah.

Seorang wali murid pernah nggerundel kepada saya. Dia bilang bahwa anaknya yang kutu buku dan selalu juara kini mentok di peringkat kedua. Versi dia, si anak tidak ikut les privat di rumah sang guru. Padahal, teman-teman si bocah yang les dengan polos bercerita bahwa soal ulangan sudah dibahas alias dibocorkan saat les.

Pascaujian nasional lalu, saya dicurhati seorang ibu yang anaknya selalu ranking pertama. Konon, anaknya dipanggil sang guru ke kantor. Intinya, dia diminta menyebarluaskan jawaban kepada teman-temannya. Benar atau tidak, itu tamparan bagi insan pendidikan.

Berdasar catatan Human Development Index (HDI), mutu guru di Indonesia masih jauh dari memadai untuk mengadakan perubahan mendasar. Data statistik HDI menyebutkan, 60 persen guru SD, 40 persen guru SLTP, 43 persen guru SMA, dan 34 persen guru SMK belum layak mengajar di jenjang masing-masing. Selain itu, 17,2 persen guru atau setara dengan 69.477 guru mengajar bukan bidang studinya.

Menurut Masruri (2006), guru terbagi dalam empat klasifikasi. Pertama, guru dasar. Mereka yang termasuk kategori itu adalah yang dilahirkan untuk menjadi guru. Dia bersahaja dan santun dalam perbuatan.

Kedua, guru bayar. Itu adalah kelompok guru yang selalu perhitungan terhadap waktu dan tenaga yang dikeluarkan. Bagi dia, profesi adalah mesin pencetak uang. Ada kesan materialistis yang dominan.

Ketiga, guru nyasar. Mereka menjadi guru sebagai pelarian, mungkin salah jurusan atau tidak mendapatkan pekerjaan di profesi lain. Kelompok tersebut masih bisa diluruskan bila kompetensi dan kemauan dirinya terus di-upgrade.

Keempat, guru benar. Itu merupakan guru yang niatnya benar dan tepat dalam empat hal. Yakni, waktu, biaya, tenaga, dan kualitas. Mereka tulus mengabdi demi tugas mulia mencerdaskan bangsa. Spirit berkobar, tak peduli orang berkomentar.

Di masyarakat, tertanam guru adalah sosok yang penuh pengabdian. Pengabdian terhadap murid, sekolah, masyarakat, dan bangsa. Tak aneh, guru hampir selalu dilibatkan dalam berbagai ajang sosial kemasyarakatan. Menjadi panitia penyelenggara pemilu, pilkades, atau pengurus RT. Kadang, demi alasan jangka pendek, guru bertindak melenceng. Mereka menjadi hidden curriculum.

Untuk memaknai profesionalisme, guru perlu introspeksi tentang beberapa hal. Pertama, guru tidak boleh bosan meng-upgrade kemampuan dan keilmuan diri. Zaman terus berubah. Bagi guru, sekolah boleh berhenti. Tapi, belajar harus tetap jalan. Kalau tidak, mungkin benar kritik Franz Magnis Suseno, guru-guru kita tidak terlatih mengantisipasi perubahan. Mereka selalu melihat diri sebagai pemegang otoritas, tetapi dengan kepercayaan diri lemah.

Kedua, senantiasa meningkatkan profesionalisme. Tenaga profesional mengandung arti bahwa pekerjaan guru hanya dapat dilaksanakan oleh seseorang yang memiliki kualifikasi akademik, kompetensi, dan sertifikat pendidik yang sesuai dengan persyaratan untuk tiap jenis dan jenjang. Dalam UU Nomor 14 Tahun 2005 disebutkan, seorang guru harus memiliki empat kompetensi utama. Yaitu, kompetensi pedagogis, kepribadian, profesional, dan sosial.

Ketiga, menjaga keikhlasan dan niat tulus untuk mengabdikan diri demi berkembangnya tradisi pendidikan di masyarakat. Tanpa keikhlasan, ilmu yang diberikan kepada siswa tidak akan terserap secara optimal. Ibaratnya, mata air yang keruh sulit mengalirkan air yang bening.

Tugas dan beban guru memang berat. Berbagai tudingan miring biasa terlontarkan. Semua akan terasa indah dan terjawab bila diimbangi dengan profesionalitas, bukan keteledoran. Bila tidak, silakan tutup telinga atas tuduhan bahwa guru hanya antusias saat mengurus kesejahteraan dan malas untuk perubahan yang lebih baik.

Album
ms1 Siswa/i sedang senam pagi bersama Siswa/i sedang ekskul pramuka Siswa/i sedang Upacara Bendera UN kelas 6 angkatan IV 1
Forum Chat

Loading

WP Shoutbox
Name
Website
Message
Smile
Polling

Sekolah mana yang termasuk favorit di Cilegon?

View Results

Loading ... Loading ...
Kalender
September 2018
M T W T F S S
« Dec    
 12
3456789
10111213141516
17181920212223
24252627282930
If you'd like to support WordPsress, having the "powered by" link somewhere on your blog is the best way; it's our only promotion or advertising.

Copyright © 2018 http://sekolahmadani.com.